Sistem Penilaian Akademik: Sistem Penilaian Akademik di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan
Sistem penilaian akademik bukan sekadar angka di rapor atau IPK di ijazah. Ini adalah mekanisme komprehensif yang memastikan setiap lulusan STIKES benar-benar siap menyelamatkan nyawa — tempat di mana penilaian tidak hanya mengukur kemampuan menghafal, tapi juga keterampilan klinis, sikap profesional, dan kesiapan etis dalam menghadapi pasien nyata.
Faktanya:
- LAM-PTKes mewajibkan minimal 60% bobot penilaian praktikum dalam setiap mata kuliah klinis
- Mahasiswa yang lulus dengan IPK tinggi tapi gagal OSCE tidak bisa mengikuti UKOM
- Penilaian sikap profesional bisa menjadi faktor penentu kelulusan meski nilai teori sempurna
Artikel ini akan membahas:
- Komponen utama sistem penilaian di STIKES
- Standar nasional yang mengatur kelulusan
- Dan tentu saja, informasi Akademik kesehatan dari STIKES ISTARA
Mengapa Sistem Penilaian Akademik Sangat Penting dalam Pendidikan Kesehatan?
| Alasan | Dampak |
|---|---|
| Profesi Kesehatan = Profesi Berisiko Tinggi | Kesalahan kecil bisa berakibat fatal bagi pasien |
| Penilaian Harus Holistik | Tidak cukup hanya nilai ujian — sikap & keterampilan juga diukur |
| Standar Nasional Harus Dipenuhi | Lulusan harus memenuhi kompetensi minimal sesuai LAM-PTKes |
Sebenarnya, sistem penilaian akademik yang lemah = melahirkan tenaga kesehatan yang tidak siap kerja.
Tidak hanya itu, harus diprioritaskan.
Karena itu, sangat strategis.
Komponen Utama Sistem Penilaian Akademik di STIKES
Sistem penilaian akademik di STIKES terdiri dari tiga pilar utama:
| Komponen | Bobot Umum | Tujuan |
|---|---|---|
| Penilaian Teori | 30–40% | Ukur pemahaman konsep, farmakologi, patofisiologi |
| Penilaian Praktikum | 40–50% | Latih keterampilan klinis: injeksi, perawatan luka, dll |
| Penilaian Sikap Profesional | 10–20% | Nilai etika, komunikasi, kerja tim, empati |
Sebenarnya, tanpa keseimbangan ketiga komponen ini, penilaian tidak akan mencerminkan kompetensi nyata seorang calon tenaga kesehatan.
Tidak hanya itu, harus dioptimalkan.
Karena itu, sangat vital.
Penilaian Teori: Ujian Tertulis, Kuis, dan Tugas Akademik
Sistem penilaian akademik di aspek teori meliputi:
| Jenis Penilaian | Format | Contoh |
|---|---|---|
| Ujian Tengah Semester (UTS) | Pilihan ganda + esai | Kasus klinis dengan pertanyaan analisis |
| Ujian Akhir Semester (UAS) | Komprehensif | Gabungan materi seluruh semester |
| Kuis Mingguan | Singkat, spontan | 5 pertanyaan lisan sebelum praktikum |
| Tugas Mandiri | Makalah, studi kasus | Analisis jurnal terkini tentang diabetes |
Sebenarnya, teori adalah fondasi — tanpa pemahaman konsep yang kuat, keterampilan klinis tidak akan bermakna.
Tidak hanya itu, sangat penting.
Penilaian Praktikum: Observasi Langsung oleh Dosen & Preceptor
Sistem penilaian akademik di laboratorium dan lapangan menggunakan checklist observasi:
| Keterampilan | Parameter Penilaian |
|---|---|
| Injeksi Intramuskular | Cuci tangan, pilih lokasi tepat, teknik suntik benar, dokumentasi |
| Pemasangan Infus | Sterilitas, kecepatan tetesan sesuai resep, monitoring komplikasi |
| Perawatan Luka | Teknik aseptik, pemilihan balutan, edukasi pasien |
Sebenarnya, satu kesalahan kecil dalam praktikum bisa menjadi bencana besar di dunia nyata — makanya penilaian harus ketat.
Tidak hanya itu, sangat prospektif.
Penilaian Sikap Profesional: Etika, Empati, dan Tanggung Jawab
Sistem penilaian akademik juga mengukur dimensi non-teknis:
| Aspek Sikap | Indikator Penilaian |
|---|---|
| Etika Profesi | Jaga kerahasiaan pasien, hormati hak otonomi |
| Komunikasi Terapeutik | Dengarkan pasien tanpa memotong, gunakan bahasa yang mudah dipahami |
| Kerja Tim | Kolaborasi dengan mahasiswa lain, terima masukan dengan terbuka |
| Tanggung Jawab | Hadir tepat waktu, siapkan alat sebelum praktikum |
Sebenarnya, pasien lebih mengingat cara kamu memperlakukan mereka daripada nama obat yang kamu berikan.
Tidak hanya itu, sangat ideal.
OSCE (Objective Structured Clinical Examination): Uji Kompetensi Berbasis Stasiun
Sistem penilaian akademik modern menggunakan OSCE sebagai ujian akhir:
| Stasiun | Aktivitas | Waktu |
|---|---|---|
| Stasiun 1: Anamnesis | Wawancara pasien simulasi tentang keluhan | 5 menit |
| Stasiun 2: Pemeriksaan Fisik | Ukur tekanan darah, periksa suhu | 5 menit |
| Stasiun 3: Tindakan Klinis | Pasang infus pada manekin | 7 menit |
| Stasiun 4: Edukasi Pasien | Jelaskan cara minum obat diabetes | 5 menit |
Sebenarnya, OSCE adalah simulasi nyata yang memaksa mahasiswa berpikir cepat dan bertindak tepat di bawah tekanan.
Tidak hanya itu, sangat direkomendasikan.
Standar Kelulusan Nasional: UKOM, IPK Minimal, dan Portofolio
Sistem penilaian akademik di STIKES harus selaras dengan standar nasional:
| Persyaratan | Ketentuan |
|---|---|
| IPK Minimal | 2.75 untuk lulus (sesuai SK LAM-PTKes) |
| Kelulusan OSCE Internal | Wajib lulus sebelum diizinkan ikut UKOM |
| Uji Kompetensi Nasional (UKOM) | Diselenggarakan oleh Kemenkes & LAM-PTKes |
| Portofolio Praktik | Kumpulan dokumentasi asuhan selama magang |
Sebenarnya, lulus kuliah ≠ boleh praktik — harus lulus UKOM dulu untuk mendapat STR.
Tidak hanya itu, sangat bernilai.
Peran STIKES Istara Nusantara dalam Menerapkan Sistem Penilaian Akademik yang Berkualitas
Berdasarkan informasi dari stikes-istara.ac.id, STIKes Istara Nusantara menerapkan sistem penilaian akademik yang komprehensif melalui:
- Penilaian berbasis kompetensi sesuai standar LAM-PTKes
- Dosen & preceptor terlatih dalam teknik observasi dan umpan balik
- OSCE terstruktur dengan stasiun yang merefleksikan situasi klinis nyata
- Portofolio digital untuk dokumentasi perkembangan kompetensi mahasiswa
- Remedial teaching bagi mahasiswa yang belum mencapai standar minimal
Sebenarnya, STIKes Istara tidak hanya menilai — tapi juga mendampingi hingga mahasiswa benar-benar siap.
Tidak hanya itu, sangat penting.

Sebelum Lanjut, Baca Artikel Terkait: Proses Pembelajaran Teori dan Praktik di Perguruan Tinggi Kesehatan
Sebelum kamu melanjutkan membaca tentang sistem penilaian akademik, sangat disarankan untuk baca artikel sebelumnya di Blog ini:
👉 Proses Pembelajaran Teori dan Praktik di Perguruan Tinggi Kesehatan
Di artikel tersebut, kamu akan menemukan:
- Integrasi antara kelas dan simulasi
- Peran preceptor dan laboratorium klinik
- Strategi sukses menghadapi UKOM
Karena penilaian yang baik harus didukung oleh proses pembelajaran yang utuh.
Baca sekarang, simpan, dan jadikan pegangan!
Penutup: Bukan Hanya Soal Angka — Tapi Soal Menjadi Tenaga Kesehatan yang Kompeten, Profesional, dan Bertanggung Jawab
Sistem penilaian akademik bukan alat untuk menghukum mahasiswa yang kurang pintar.
Ini adalah mekanisme perlindungan bagi masyarakat — saat institusi pendidikan memilih untuk tidak memberikan gelar kepada siapa pun yang belum benar-benar siap, karena nyawa pasien tidak bisa dijadikan bahan eksperimen.
Dan jika kamu ingin kuliah di kampus kesehatan yang serius menerapkan sistem penilaian akademik yang berkualitas, maka kamu harus tahu:
👉 STIKES ISTARA
Di sini, kamu akan menemukan:
- Program studi unggulan: S1 Keperawatan, S1 Kesehatan Masyarakat, D3 Kebidanan
- Kurikulum terintegrasi dengan perkembangan dunia medis terkini
- Fasilitas modern, termasuk laboratorium kesehatan lengkap
- Dosen berpengalaman di bidang akademik maupun praktik klinis
- Jaringan kerjasama dengan rumah sakit dan instansi kesehatan
- Komitmen pada pengabdian masyarakat & peningkatan kualitas hidup
Karena keberhasilan sejati bukan diukur dari seberapa cepat kamu lulus — tapi seberapa siap kamu menyumbang untuk kemajuan bangsa.
Akhirnya, dengan satu keputusan:
👉 Jadikan penilaian sebagai umpan balik, bukan hukuman
👉 Investasikan di kompetensi nyata, bukan hanya angka
👉 Percaya bahwa dari satu evaluasi yang jujur, lahir pertumbuhan yang abadi
Kamu bisa menjadi bagian dari generasi tenaga kesehatan yang tidak hanya hadir — tapi berdampak; tidak hanya ingin gelar — tapi ingin berkontribusi nyata di garda depan pelayanan medis.
Jadi,
jangan anggap nilai hanya soal IPK.
Jadikan sebagai cermin: bahwa dari setiap ujian, lahir pemahaman; dari setiap praktikum, lahir keterampilan; dan dari setiap “Alhamdulillah, saya akhirnya lulus dengan kompetensi nyata” dari seorang mahasiswa, lahir bukti bahwa dengan niat tulus, keberanian, dan doa, kita bisa menjadi tenaga kesehatan yang benar-benar dipercaya oleh masyarakat — meski harus belajar dari nol, gagal beberapa kali, dan rela mengorbankan waktu demi memastikan setiap kompetensi yang dimiliki benar-benar menyelamatkan nyawa.
Karena keberhasilan sejati bukan diukur dari seberapa banyak uang yang dihasilkan — tapi seberapa besar kepercayaan yang kamu dapatkan dari sesama manusia.
Sebenarnya, alam tidak butuh kita.
Tentu saja, kita yang butuh alam untuk bertahan hidup.
Dengan demikian, menjaganya adalah bentuk rasa syukur tertinggi.
Padahal, satu generasi yang peduli bisa mengubah masa depan.
Akhirnya, setiap tindakan pelestarian adalah investasi di masa depan.
Karena itu, mulailah dari dirimu — dari satu keputusan bijak.


