Loading Now
×

Praktikum di STIKES Seperti Apa? Kenali Kegiatan Mahasiswa Kesehatan

praktikum di STIKES untuk mahasiswa kesehatan di laboratorium kampus

Praktikum di STIKES Seperti Apa? Kenali Kegiatan Mahasiswa Kesehatan

0 0
Read Time:22 Minute, 59 Second

Bagi siswa SMA atau calon mahasiswa yang sedang mempertimbangkan kuliah di bidang kesehatan, pertanyaan tentang praktikum di STIKES sering muncul sebelum menentukan pilihan jurusan. Banyak calon mahasiswa ingin mengetahui apakah kuliah kesehatan lebih banyak belajar teori atau justru memiliki kegiatan praktik yang intensif.

Pertanyaan tersebut penting karena pendidikan kesehatan tidak hanya berhubungan dengan membaca buku dan mengikuti perkuliahan di kelas. Mahasiswa juga perlu membangun keterampilan yang dapat digunakan dalam lingkungan pelayanan kesehatan sesuai kompetensi dan jenjang pendidikannya.

Praktikum menjadi salah satu bagian pembelajaran yang membantu mahasiswa menghubungkan teori dengan keterampilan. Melalui laboratorium, simulasi, latihan keterampilan, dan kegiatan praktik yang dilakukan secara bertahap, mahasiswa dapat memahami bagaimana suatu konsep diterapkan dalam situasi yang lebih nyata.

Di STIKES Istara, informasi resmi mengenai fasilitas kampus menunjukkan adanya laboratorium keperawatan, kebidanan, dan kesehatan masyarakat. Laboratorium tersebut digunakan untuk mendukung kegiatan praktik yang sesuai dengan bidang pembelajaran masing-masing.

Karena itu, calon mahasiswa sebaiknya memahami terlebih dahulu seperti apa kegiatan praktikum sebelum menyimpulkan bahwa kuliah di STIKES hanya berisi teori atau sebaliknya.

Apa Itu Praktikum di STIKES?

Secara sederhana, praktikum adalah kegiatan pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk menerapkan pengetahuan melalui latihan atau simulasi.

Dalam pendidikan kesehatan, kegiatan praktikum memiliki karakter yang berbeda dengan praktikum di beberapa jurusan lain. Mahasiswa tidak hanya melakukan percobaan, tetapi dapat dilatih untuk memahami keterampilan yang berkaitan dengan pelayanan kesehatan.

Prosesnya biasanya dilakukan secara bertahap.

Mahasiswa mempelajari teori terlebih dahulu, kemudian mendapatkan penjelasan mengenai keterampilan, melihat demonstrasi, melakukan latihan, mendapatkan koreksi dari pengajar, dan menjalani evaluasi sesuai kebutuhan pembelajaran.

Tujuannya bukan membuat mahasiswa langsung mahir dalam satu kali latihan.

Keterampilan dibangun melalui proses berulang sehingga mahasiswa semakin memahami prosedur dan mampu menjalankannya dengan lebih terstruktur.

Dalam pendidikan tenaga kesehatan, aspek kompetensi memang memiliki peran penting. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan mengatur berbagai hal terkait sumber daya manusia kesehatan, termasuk pendidikan dan kompetensi tenaga kesehatan.

Jadi, ketika membahas praktikum di STIKES, kegiatan tersebut sebaiknya dipahami sebagai bagian dari proses pembentukan kompetensi, bukan sekadar aktivitas tambahan agar kuliah terasa lebih menarik.

Apakah Kuliah di STIKES Banyak Praktikum?

Jawabannya dapat berbeda berdasarkan program studi, semester, mata kuliah, kurikulum, dan tahap pendidikan.

Namun, pendidikan di bidang kesehatan memang membutuhkan kombinasi antara pembelajaran teori dan pengembangan keterampilan.

Di STIKES Istara, fasilitas resmi kampus mencantumkan laboratorium keperawatan untuk praktik keterampilan dasar dan klinis, laboratorium kebidanan untuk simulasi asuhan kebidanan ibu dan anak, serta laboratorium kesehatan masyarakat untuk praktik yang berkaitan dengan epidemiologi, gizi, dan kesehatan lingkungan.

Artinya, mahasiswa dari bidang yang berbeda dapat memperoleh pengalaman praktikum dengan karakter yang berbeda pula.

Mahasiswa keperawatan tentu tidak melakukan kegiatan yang sama persis dengan mahasiswa kebidanan. Begitu juga mahasiswa kesehatan masyarakat mempunyai kebutuhan pembelajaran praktik yang berbeda.

Karena itu, calon mahasiswa perlu mencari informasi berdasarkan program studi yang ingin dipilih.

Kegiatan Praktikum Tidak Selalu Berarti Praktik di Rumah Sakit

Salah satu kesalahpahaman yang sering muncul adalah menganggap setiap kegiatan praktik mahasiswa kesehatan langsung dilakukan di rumah sakit.

Padahal, pembelajaran keterampilan dapat dimulai dari laboratorium kampus.

Laboratorium memberikan lingkungan pembelajaran yang lebih terkontrol sehingga mahasiswa dapat berlatih sebelum memasuki lingkungan pelayanan kesehatan.

Dalam tahap ini, mahasiswa dapat mempelajari:

  • Cara menggunakan peralatan pembelajaran.
  • Prosedur dasar sesuai kompetensi.
  • Teknik komunikasi.
  • Simulasi kondisi pasien.
  • Langkah keselamatan.
  • Cara bekerja secara sistematis.
  • Cara mengikuti instruksi.
  • Cara melakukan evaluasi keterampilan.

Setelah memahami dasar keterampilan, mahasiswa dapat memperoleh pengalaman pada tahap pembelajaran berikutnya sesuai kurikulum dan ketentuan pendidikan.

Pendekatan bertahap tersebut penting karena mahasiswa kesehatan membutuhkan kesiapan pengetahuan sekaligus keterampilan.

Mengenal Laboratorium Kesehatan di STIKES

Laboratorium menjadi salah satu fasilitas yang perlu diperhatikan ketika calon mahasiswa memilih kampus kesehatan.

Bukan hanya keberadaan ruangan yang penting, tetapi juga fungsi laboratorium terhadap program studi.

STIKES Istara secara resmi menyebutkan beberapa fasilitas laboratorium yang mendukung pembelajaran, yaitu Laboratorium Keperawatan, Laboratorium Kebidanan, dan Laboratorium Kesehatan Masyarakat.

Setiap laboratorium mempunyai fokus pembelajaran yang berbeda.

Laboratorium Keperawatan

Laboratorium keperawatan dapat digunakan untuk melatih keterampilan dasar maupun keterampilan klinis yang relevan dengan pembelajaran keperawatan.

Mahasiswa dapat melakukan simulasi sebelum menghadapi pengalaman praktik yang lebih kompleks.

Kegiatan seperti ini membantu mahasiswa memahami prosedur secara bertahap sekaligus menerima koreksi dari pengajar.

Bagi calon mahasiswa yang ingin mengetahui lebih jauh mengenai pembelajaran program studi, informasi Program Studi STIKES Istara dapat menjadi salah satu rujukan untuk mengenali bidang pendidikan yang tersedia.

Laboratorium Kebidanan

Laboratorium kebidanan mempunyai fokus yang berbeda karena pembelajarannya berkaitan dengan kompetensi kebidanan.

STIKES Istara menjelaskan bahwa laboratorium kebidanan digunakan untuk mendukung simulasi asuhan kebidanan ibu dan anak.

Melalui simulasi, mahasiswa dapat mempelajari keterampilan dalam lingkungan pembelajaran yang lebih terkontrol sebelum mendapatkan pengalaman praktik lapangan sesuai tahap pendidikannya.

Laboratorium Kesehatan Masyarakat

Kesehatan masyarakat juga memiliki kebutuhan praktik yang berbeda dengan keperawatan dan kebidanan.

STIKES Istara mencantumkan kegiatan laboratorium kesehatan masyarakat yang berkaitan dengan epidemiologi, gizi, dan kesehatan lingkungan.

Hal ini menunjukkan bahwa istilah “praktikum mahasiswa kesehatan” mempunyai cakupan yang luas.

Praktikum tidak selalu berarti melakukan tindakan klinis terhadap pasien.

Pada bidang kesehatan masyarakat, praktik dapat lebih banyak berkaitan dengan analisis, pengukuran, pengamatan, pengolahan informasi, maupun pendekatan kesehatan berbasis masyarakat sesuai kompetensi program studi.

Tahapan Praktikum Biasanya Dimulai dari Teori

Calon mahasiswa perlu memahami bahwa praktikum bukan pengganti perkuliahan teori.

Keduanya justru saling berkaitan.

Sebelum melakukan latihan keterampilan, mahasiswa perlu memahami konsep yang menjadi dasar kegiatan tersebut.

Gambaran sederhananya dapat berupa:

  • Mahasiswa mempelajari teori.
  • Dosen atau instruktur menjelaskan prosedur.
  • Mahasiswa melihat demonstrasi.
  • Mahasiswa melakukan simulasi.
  • Dosen memberikan koreksi.
  • Mahasiswa mengulangi keterampilan.
  • Mahasiswa mengikuti evaluasi.
  • Mahasiswa menerapkan pengetahuan pada tahap praktik berikutnya sesuai kurikulum.

Urutan tersebut dapat berbeda berdasarkan mata kuliah dan program studi.

Namun, prinsipnya sama: mahasiswa tidak seharusnya dilepas begitu saja untuk melakukan kegiatan praktik tanpa pembekalan.

Apa yang Dilakukan Mahasiswa Saat Praktikum?

Kegiatan praktikum sangat bergantung pada program studi.

Mahasiswa keperawatan dapat mempelajari keterampilan keperawatan, sedangkan mahasiswa kebidanan mempelajari keterampilan yang berkaitan dengan pelayanan kebidanan.

Mahasiswa kesehatan masyarakat dapat memperoleh pengalaman praktik yang berhubungan dengan bidang seperti epidemiologi, gizi, kesehatan lingkungan, atau kegiatan berbasis masyarakat.

Secara umum, kegiatan praktikum dapat mencakup:

  • Mendengarkan penjelasan dosen atau instruktur.
  • Mengamati demonstrasi.
  • Mempelajari prosedur.
  • Menggunakan alat pembelajaran.
  • Melakukan simulasi.
  • Berlatih secara individu atau berkelompok.
  • Mendokumentasikan kegiatan.
  • Menerima evaluasi.
  • Mengulang keterampilan yang belum dikuasai.
  • Membahas hasil praktik.

Jadi, mahasiswa tidak hanya “melakukan praktik”, tetapi juga harus memahami alasan di balik suatu prosedur.

Praktikum Keperawatan Seperti Apa?

Keperawatan menjadi salah satu program yang identik dengan pembelajaran keterampilan.

Pada tahap pendidikan, mahasiswa dapat mempelajari berbagai kemampuan yang berkaitan dengan proses asuhan keperawatan dan pelayanan pasien sesuai kurikulum.

Contoh kegiatan pembelajaran dapat meliputi:

  • Latihan komunikasi dengan pasien.
  • Pengkajian kondisi pasien.
  • Pengukuran tanda-tanda vital.
  • Keterampilan perawatan dasar.
  • Pencegahan infeksi.
  • Keselamatan pasien.
  • Simulasi tindakan keperawatan.
  • Dokumentasi asuhan.
  • Latihan kerja sama dalam tim.

Kegiatan tersebut dilakukan sesuai tingkat pendidikan dan kompetensi yang sedang dipelajari.

Mahasiswa tidak hanya dinilai dari kemampuan melakukan tindakan, tetapi juga dari ketelitian, komunikasi, prosedur, dan sikap selama kegiatan.

Praktikum Kebidanan Seperti Apa?

Mahasiswa kebidanan juga membutuhkan pembelajaran praktik yang cukup kuat.

Karakter praktiknya berbeda karena fokus pendidikan kebidanan berkaitan dengan pelayanan kebidanan serta kesehatan perempuan dan anak sesuai kompetensi pendidikan.

Kegiatan praktikum dapat berupa simulasi dan latihan keterampilan yang berkaitan dengan:

  • Kehamilan.
  • Pelayanan kebidanan.
  • Persalinan sesuai kompetensi pendidikan.
  • Masa nifas.
  • Bayi baru lahir.
  • Kesehatan reproduksi.
  • Komunikasi dengan ibu dan keluarga.
  • Edukasi kesehatan.
  • Dokumentasi pelayanan.

Laboratorium kebidanan dapat menjadi tempat bagi mahasiswa untuk membangun keterampilan sebelum memperoleh pengalaman praktik pada lingkungan pelayanan kesehatan.

Hal tersebut juga menunjukkan mengapa calon mahasiswa sebaiknya melihat fasilitas laboratorium ketika memilih kampus.

Baca Juga: Jurusan Kesehatan yang Banyak Praktik, Keperawatan atau Kebidanan?

image-27-1024x683 Praktikum di STIKES Seperti Apa? Kenali Kegiatan Mahasiswa Kesehatan

Praktikum Kesehatan Masyarakat Seperti Apa?

Tidak semua mahasiswa kesehatan belajar melalui tindakan klinis.

Kesehatan masyarakat mempunyai karakter praktik yang berbeda.

Mahasiswa dapat mempelajari bagaimana masalah kesehatan dianalisis dari sudut pandang populasi atau masyarakat. Pembelajaran dapat berkaitan dengan epidemiologi, gizi, kesehatan lingkungan, promosi kesehatan, pengumpulan data, hingga kegiatan lapangan sesuai kurikulum.

Di STIKES Istara, laboratorium kesehatan masyarakat secara resmi disebut mendukung praktik epidemiologi, gizi, dan kesehatan lingkungan.

Hal ini penting dipahami oleh calon mahasiswa yang mengira bahwa semua jurusan di STIKES memiliki bentuk praktikum yang sama.

Justru setiap program studi memiliki kompetensi yang berbeda sehingga metode praktiknya pun dapat berbeda.

Apakah Mahasiswa Praktikum Sendirian?

Tidak selalu.

Dalam kegiatan pembelajaran keterampilan, mahasiswa dapat berlatih secara individu maupun kelompok tergantung jenis kegiatan dan metode pembelajaran.

Dosen atau instruktur dapat memberikan arahan dan evaluasi agar mahasiswa memahami prosedur yang sedang dipelajari.

Lingkungan pembelajaran seperti ini penting karena keterampilan kesehatan membutuhkan pengawasan dan evaluasi.

Mahasiswa dapat mengetahui kesalahan yang dilakukan dan memperbaikinya sebelum melanjutkan ke tahap pembelajaran berikutnya.

Konsep pendidikan klinis juga mendapat perhatian dalam regulasi Indonesia. Perpres Nomor 34 Tahun 2026 tentang Pendidik Klinis mengatur kedudukan, tugas, persyaratan, pengelolaan, pembinaan, dan pengawasan pendidik klinis dalam penyelenggaraan pendidikan klinis.

Hal tersebut memperlihatkan bahwa proses pendidikan klinis membutuhkan sistem pembelajaran dan pendampingan yang jelas.

Apa yang Dinilai Saat Praktikum?

Praktikum bukan sekadar hadir di laboratorium.

Mahasiswa biasanya perlu menunjukkan bahwa mereka memahami dan mampu menjalankan keterampilan sesuai tujuan pembelajaran.

Aspek penilaian dapat berbeda berdasarkan mata kuliah, tetapi secara umum mahasiswa dapat menghadapi evaluasi seperti:

  • Pemahaman prosedur.
  • Ketepatan langkah.
  • Ketelitian.
  • Keselamatan.
  • Komunikasi.
  • Sikap profesional.
  • Penggunaan alat.
  • Kemampuan bekerja sama.
  • Kemampuan menjelaskan alasan tindakan.
  • Kemampuan mengikuti instruksi.

Karena itu, mahasiswa perlu mempersiapkan diri sebelum jadwal praktikum.

Membaca modul terlebih dahulu dapat membantu mahasiswa memahami gambaran kegiatan sebelum memasuki laboratorium.

Mengapa Mahasiswa Perlu Latihan Berulang?

Keterampilan tidak selalu dapat dikuasai hanya dengan membaca materi.

Mahasiswa mungkin memahami suatu prosedur secara teori, tetapi masih mengalami kesulitan ketika harus menerapkannya.

Latihan berulang membantu mahasiswa membangun kebiasaan.

Misalnya, mahasiswa dapat mengetahui urutan suatu prosedur ketika membaca modul. Namun ketika melakukan simulasi, mahasiswa mungkin lupa langkah tertentu atau kurang teliti.

Di sinilah fungsi praktikum menjadi penting.

Mahasiswa dapat mengetahui kekurangannya melalui evaluasi, kemudian melakukan perbaikan pada latihan berikutnya.

Proses tersebut bukan berarti mahasiswa gagal.

Justru kesalahan dalam lingkungan pembelajaran yang terkontrol dapat menjadi bagian dari proses belajar selama dilakukan dengan pengawasan dan tidak membahayakan pasien.

Praktikum Membutuhkan Persiapan

Mahasiswa yang ingin mengikuti kegiatan praktikum dengan baik sebaiknya tidak datang tanpa persiapan.

Beberapa hal sederhana yang dapat dilakukan sebelum praktikum adalah:

  • Membaca modul atau materi.
  • Memahami tujuan praktikum.
  • Mengetahui alat yang akan digunakan.
  • Mempelajari prosedur.
  • Mempersiapkan perlengkapan.
  • Datang tepat waktu.
  • Memperhatikan instruksi.
  • Bertanya ketika belum memahami langkah tertentu.
  • Mencatat evaluasi dari dosen atau instruktur.
  • Melakukan latihan kembali jika diperlukan.

Kebiasaan tersebut dapat membantu mahasiswa lebih siap menghadapi pembelajaran.

Selain itu, mahasiswa juga dapat membangun sikap disiplin sejak awal karena dunia pelayanan kesehatan membutuhkan ketelitian dan tanggung jawab.

Apa Bedanya Praktikum dan Praktik Lapangan?

Istilah praktikum dan praktik lapangan sering dianggap sama, padahal konteksnya dapat berbeda.

Praktikum umumnya dilakukan dalam lingkungan pembelajaran seperti laboratorium kampus atau ruang simulasi.

Praktik lapangan dilakukan di lingkungan yang lebih dekat dengan kondisi pelayanan atau masyarakat sesuai program studi dan ketentuan pendidikan.

STIKES Istara menyebutkan adanya area praktik lapangan dan kerja sama dengan rumah sakit, puskesmas, serta klinik untuk mendukung kegiatan praktik mahasiswa.

Perbedaan tersebut membuat proses pendidikan dapat berlangsung secara bertahap.

Mahasiswa dapat membangun keterampilan dasar melalui laboratorium sebelum memperoleh pengalaman pada lingkungan praktik yang lebih kompleks.

Kementerian Kesehatan juga menunjukkan bahwa orientasi bagi mahasiswa yang akan melakukan praktik di rumah sakit dapat menjadi bagian dari persiapan sebelum memasuki lingkungan pelayanan. Salah satu contoh pada 2026 adalah orientasi umum mahasiswa PKL di RSPON Mahar Mardjono Jakarta.

Mengapa Praktikum Penting Sebelum Praktik Lapangan?

Bayangkan seorang mahasiswa langsung ditempatkan di lingkungan pelayanan tanpa pernah melakukan simulasi atau latihan keterampilan sebelumnya.

Situasi tersebut tentu tidak ideal.

Laboratorium memberikan ruang untuk belajar dan berlatih sebelum mahasiswa menghadapi lingkungan praktik yang lebih nyata.

Melalui praktikum, mahasiswa dapat:

  • Memahami prosedur.
  • Mengenal alat.
  • Melatih komunikasi.
  • Meningkatkan ketelitian.
  • Membiasakan diri mengikuti standar.
  • Mendapatkan evaluasi.
  • Membangun rasa percaya diri.
  • Memahami tanggung jawab dalam pelayanan.

Dengan demikian, praktikum dapat menjadi jembatan antara teori dan pengalaman praktik.

Hubungan Praktikum dengan Kompetensi Mahasiswa

Tujuan pendidikan kesehatan bukan sekadar menghasilkan mahasiswa yang memiliki nilai akademik tinggi.

Mahasiswa juga perlu memiliki kompetensi sesuai bidang pendidikannya.

Dalam konteks nasional, pemerintah mengatur berbagai aspek sumber daya manusia kesehatan dan kompetensi melalui UU Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan.

Selain itu, regulasi pendidikan kesehatan terus berkembang. Peraturan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Nomor 54 Tahun 2025 mencabut Permendikbud Nomor 2 Tahun 2020 mengenai tata cara pelaksanaan uji kompetensi mahasiswa bidang kesehatan, dengan pengaturan baru yang merujuk pada PP Nomor 28 Tahun 2024.

Karena itu, mahasiswa perlu melihat praktikum sebagai bagian dari proses pendidikan yang lebih luas.

Praktikum membantu mahasiswa membangun keterampilan, sedangkan pembelajaran teori membantu memberikan dasar pengetahuan untuk memahami apa yang dilakukan.

Bagaimana Suasana Praktikum di Kampus Kesehatan?

Suasana praktikum dapat berbeda dengan perkuliahan biasa.

Jika di ruang kelas mahasiswa lebih banyak mendengarkan penjelasan, membaca materi, berdiskusi, dan mengerjakan tugas, di laboratorium mahasiswa lebih aktif melakukan latihan.

Biasanya mahasiswa perlu:

  • Memperhatikan demonstrasi.
  • Mengikuti instruksi.
  • Menggunakan alat.
  • Melakukan simulasi.
  • Berdiskusi dengan kelompok.
  • Mengulangi prosedur.
  • Menerima koreksi.
  • Menjalani evaluasi.

Karena sifatnya aktif, mahasiswa perlu menjaga konsentrasi.

Praktikum juga dapat menjadi kegiatan yang menarik bagi mahasiswa yang lebih mudah memahami materi melalui pengalaman langsung.

Apakah Praktikum Sulit untuk Mahasiswa Baru?

Pada awalnya mungkin terasa menantang.

Mahasiswa baru masih beradaptasi dengan istilah kesehatan, peralatan, prosedur, jadwal kuliah, sistem penilaian, serta lingkungan kampus.

Namun, keterampilan biasanya dipelajari secara bertahap.

Mahasiswa tidak dituntut menguasai semuanya dalam satu hari.

Dosen dan instruktur memberikan pembelajaran sesuai materi dan tingkat kompetensi yang sedang ditempuh.

Karena itu, calon mahasiswa tidak perlu takut hanya karena mendengar bahwa kuliah kesehatan banyak praktikum.

Yang lebih penting adalah kesiapan belajar dan kemauan untuk berlatih.

Hal yang Perlu Dipersiapkan Calon Mahasiswa

Jika sejak awal sudah mengetahui bahwa kuliah kesehatan memiliki kegiatan praktikum, calon mahasiswa dapat mulai membangun kebiasaan belajar yang sesuai.

Beberapa persiapan yang bermanfaat antara lain:

  • Membiasakan membaca materi sebelum kelas.
  • Meningkatkan kemampuan komunikasi.
  • Belajar bekerja sama dalam kelompok.
  • Menjaga kedisiplinan.
  • Membiasakan diri mencatat prosedur.
  • Tidak takut bertanya.
  • Terbuka terhadap koreksi.
  • Melatih ketelitian.
  • Menjaga kebugaran dan kesiapan mengikuti aktivitas kampus.

Persiapan tersebut akan membantu mahasiswa ketika mulai menghadapi kombinasi kuliah teori, praktikum, tugas, dan kegiatan akademik lainnya.

Untuk memahami konteks pendidikan tenaga kesehatan secara lebih luas, calon mahasiswa juga dapat membaca informasi resmi dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mengenai regulasi dan pengembangan kompetensi tenaga kesehatan.

Memilih Kampus Jangan Hanya Melihat Foto Laboratorium

Ketika mencari kampus kesehatan, calon mahasiswa sering tertarik dengan foto laboratorium yang terlihat modern.

Namun, foto bukan satu-satunya indikator.

Yang lebih penting adalah bagaimana fasilitas tersebut digunakan untuk mendukung proses belajar.

Calon mahasiswa dapat mempertimbangkan:

  • Apakah laboratorium sesuai dengan program studi?
  • Apakah kegiatan praktikum dijelaskan dengan jelas?
  • Apakah tersedia fasilitas simulasi?
  • Bagaimana sistem pendampingannya?
  • Bagaimana mahasiswa mendapatkan kesempatan latihan?
  • Apakah terdapat fasilitas praktik lapangan?
  • Bagaimana kampus mendukung pembelajaran teori dan praktik?

Di STIKES Istara, informasi fasilitas resmi mencantumkan laboratorium kesehatan serta area praktik lapangan sebagai bagian dari sarana pendukung pembelajaran.

Dengan mengecek informasi resmi tersebut, calon mahasiswa dapat memperoleh gambaran yang lebih realistis sebelum mengambil keputusan.

Praktikum Membantu Mahasiswa Memahami Dunia Kerja

Pengalaman praktikum tidak secara otomatis membuat mahasiswa siap melakukan seluruh pekerjaan profesional.

Namun, praktikum dapat membantu membangun fondasi keterampilan yang dibutuhkan selama proses pendidikan.

Mahasiswa belajar bekerja dengan prosedur, memperhatikan keselamatan, berkomunikasi, menerima evaluasi, dan memahami pentingnya ketelitian.

Ketika kemudian memasuki praktik lapangan, mahasiswa sudah memiliki pengalaman pembelajaran sebelumnya.

Kementerian Kesehatan juga menekankan pentingnya pelatihan dan peningkatan kompetensi untuk menjaga serta meningkatkan mutu tenaga kesehatan. Pedoman Direktorat Jenderal Tenaga Kesehatan tahun 2024 menyebutkan bahwa pelatihan dan kegiatan peningkatan kompetensi mendukung kesinambungan dalam menjalankan praktik.

Hal ini memperkuat gambaran bahwa kompetensi tenaga kesehatan dibangun melalui proses pembelajaran dan pengembangan kemampuan yang berkelanjutan.

Apa yang Membuat Praktikum Menjadi Menarik?

Bagi sebagian mahasiswa, praktikum menjadi salah satu kegiatan yang paling menarik selama kuliah karena pembelajaran tidak hanya berlangsung melalui buku.

Mahasiswa dapat melihat bagaimana teori diterapkan melalui simulasi.

Misalnya, sebuah konsep yang sebelumnya hanya dibaca di modul dapat dipahami lebih baik setelah mahasiswa melihat demonstrasi dan melakukan latihan.

Praktikum juga memungkinkan mahasiswa belajar dari kesalahan.

Ketika suatu langkah belum benar, mahasiswa dapat memperoleh koreksi dan mencoba kembali.

Interaksi antara mahasiswa, dosen, instruktur, dan teman satu kelompok juga dapat membuat proses belajar menjadi lebih aktif.

Karena itu, mahasiswa yang menyukai pembelajaran langsung biasanya dapat menikmati kegiatan praktikum, meskipun tetap membutuhkan kesiapan akademik dan kedisiplinan.

Praktikum Tidak Hanya untuk Mahasiswa Keperawatan

Ketika mendengar istilah praktikum STIKES, banyak orang langsung membayangkan mahasiswa keperawatan.

Padahal, mahasiswa dari berbagai program kesehatan juga memiliki kegiatan praktik dengan karakter berbeda.

Di STIKES Istara, misalnya, fasilitas resmi kampus mencantumkan laboratorium keperawatan, kebidanan, dan kesehatan masyarakat.

Hal ini memperlihatkan bahwa kegiatan praktikum disesuaikan dengan kebutuhan bidang ilmu.

Keperawatan membutuhkan latihan keterampilan keperawatan.

Kebidanan membutuhkan simulasi dan keterampilan kebidanan.

Kesehatan masyarakat membutuhkan kegiatan yang relevan dengan epidemiologi, gizi, kesehatan lingkungan, serta bidang lain sesuai pembelajaran.

Dengan memahami perbedaan tersebut, calon mahasiswa dapat memilih program studi berdasarkan minat dan karakter pembelajaran yang diinginkan.

Praktikum Menjadi Bagian Penting dalam Proses Belajar

Semakin tinggi tingkat pendidikan, mahasiswa biasanya akan semakin sering menemukan pembelajaran yang membutuhkan penerapan pengetahuan. Karena itu, praktikum di STIKES tidak seharusnya dipandang sebagai kegiatan yang berdiri sendiri.

Praktikum menjadi bagian dari rangkaian pembelajaran yang dimulai dari teori, latihan, simulasi, evaluasi, kemudian berkembang menuju pengalaman praktik sesuai program studi.

Mahasiswa akan belajar bahwa keterampilan kesehatan membutuhkan ketelitian. Satu prosedur dapat memiliki beberapa tahapan yang harus dilakukan secara berurutan.

Kebiasaan mengikuti prosedur tersebut penting untuk membangun sikap profesional sejak masa kuliah.

Mahasiswa juga akan belajar menerima kritik dan koreksi. Ketika dosen atau instruktur menemukan kesalahan dalam latihan, mahasiswa diberikan kesempatan untuk memperbaikinya.

Proses tersebut membantu mahasiswa menjadi lebih terbiasa dengan evaluasi dan tidak mudah menyerah ketika belum menguasai suatu keterampilan.

Peran Dosen dan Instruktur dalam Kegiatan Praktikum

Kegiatan praktikum membutuhkan arahan yang jelas.

Dosen atau instruktur dapat memberikan penjelasan mengenai tujuan pembelajaran, prosedur, penggunaan alat, serta aspek keselamatan yang perlu diperhatikan.

Pendampingan juga membantu mahasiswa memahami kesalahan yang mungkin terjadi selama latihan.

Dalam pembelajaran keterampilan, mahasiswa tidak hanya membutuhkan kesempatan untuk mencoba. Mereka juga membutuhkan umpan balik agar mengetahui bagian yang sudah benar dan bagian yang masih perlu diperbaiki.

Karena itu, calon mahasiswa yang sedang membandingkan kampus sebaiknya tidak hanya bertanya apakah kampus memiliki laboratorium.

Pertanyaan yang lebih bermanfaat adalah bagaimana laboratorium tersebut digunakan dan bagaimana sistem pembelajaran praktiknya.

Kegiatan Praktikum Dapat Dilakukan Secara Individu atau Kelompok

Metode praktikum dapat disesuaikan dengan tujuan pembelajaran.

Ada keterampilan yang membutuhkan latihan secara individu agar kemampuan mahasiswa dapat dinilai secara langsung. Ada pula kegiatan yang lebih efektif dilakukan secara berkelompok karena membutuhkan komunikasi dan kerja sama.

Pembelajaran kelompok dapat membantu mahasiswa mengembangkan kemampuan:

  • Berkomunikasi dengan teman.
  • Membagi tugas.
  • Mengikuti instruksi.
  • Berdiskusi.
  • Memberikan masukan.
  • Menyelesaikan masalah bersama.
  • Menghargai pendapat orang lain.

Kemampuan bekerja sama tersebut penting karena lingkungan pelayanan kesehatan melibatkan berbagai tenaga profesional.

Mahasiswa tidak akan selalu bekerja sendirian setelah memasuki dunia profesional. Karena itu, kebiasaan berkomunikasi dan berkolaborasi perlu dibangun sejak masa pendidikan.

Praktikum Mengajarkan Ketelitian

Salah satu hal yang membedakan pembelajaran kesehatan dengan pembelajaran yang sepenuhnya teoritis adalah pentingnya ketelitian dalam melakukan suatu keterampilan.

Mahasiswa dapat memahami suatu konsep dengan baik, tetapi tetap perlu berlatih agar mampu menerapkannya secara tepat.

Praktikum memberikan kesempatan untuk membangun kebiasaan tersebut.

Mahasiswa belajar memperhatikan detail, mengikuti urutan tindakan, menggunakan alat sesuai instruksi, serta menjaga aspek keselamatan selama proses pembelajaran.

Kesalahan kecil dalam latihan dapat menjadi bahan evaluasi.

Dosen atau instruktur dapat menjelaskan mengapa kesalahan tersebut terjadi dan bagaimana cara memperbaikinya.

Proses ini membuat praktikum tidak sekadar menjadi kegiatan “mencoba alat”, tetapi menjadi proses pembentukan kebiasaan profesional.

Bagaimana dengan Ujian Praktikum?

Selain ujian tertulis, beberapa pembelajaran keterampilan dapat melibatkan evaluasi praktik sesuai mata kuliah dan kurikulum.

Mahasiswa perlu menunjukkan kemampuan tertentu berdasarkan standar penilaian yang diberikan.

Evaluasi tersebut dapat membuat mahasiswa merasa gugup, terutama ketika baru pertama kali menghadapinya.

Namun, rasa gugup dapat dikurangi dengan persiapan.

Mahasiswa sebaiknya memahami materi, mempelajari prosedur, berlatih secara berulang, dan memperhatikan masukan dari dosen.

Kunci pentingnya adalah tidak menghafal langkah secara mekanis saja.

Mahasiswa juga perlu memahami alasan di balik setiap tahapan agar lebih mudah mengingat dan menerapkannya.

Praktikum dan Simulasi Membantu Membangun Kepercayaan Diri

Mahasiswa baru mungkin merasa kurang percaya diri ketika pertama kali melakukan kegiatan keterampilan.

Hal tersebut merupakan bagian yang wajar dalam proses belajar.

Setelah melakukan latihan beberapa kali, mahasiswa biasanya mulai memahami pola kegiatan dan menjadi lebih terbiasa dengan prosedur.

Kepercayaan diri yang dibangun melalui latihan bukan berarti mahasiswa boleh mengabaikan aturan.

Sebaliknya, rasa percaya diri harus berjalan bersama ketelitian, tanggung jawab, dan pemahaman batas kompetensi.

Dalam bidang kesehatan, mahasiswa harus memahami bahwa kegiatan pembelajaran memiliki aturan yang berbeda dengan tindakan profesional setelah seseorang memenuhi persyaratan pendidikan dan kompetensi.

Karena itu, praktikum sebaiknya selalu dilakukan sesuai arahan pengajar dan sistem pembelajaran yang berlaku.

Hubungan Praktikum dengan Praktik Klinik

Bagi mahasiswa pada bidang yang memiliki pembelajaran klinis, pengalaman laboratorium dapat menjadi dasar sebelum memasuki lingkungan pelayanan kesehatan.

Di laboratorium, mahasiswa dapat mengenal keterampilan dan melakukan simulasi.

Dalam praktik klinik atau lapangan, mahasiswa kemudian memperoleh pengalaman pembelajaran dalam lingkungan yang lebih nyata sesuai program studi, kurikulum, dan ketentuan institusi.

STIKES Istara menyebutkan bahwa fasilitas praktik lapangannya berkaitan dengan rumah sakit, puskesmas, dan klinik. Informasi tersebut dapat menjadi gambaran bahwa pembelajaran mahasiswa kesehatan dapat mencakup lingkungan kampus sekaligus lingkungan praktik. (stikes-istara.ac.id)

Namun, calon mahasiswa tetap perlu memastikan informasi praktik terbaru kepada kampus karena penempatan, jadwal, dan mekanisme kegiatan dapat berubah.

Apa yang Perlu Dicek dari Fasilitas Praktikum STIKES?

Jika sedang mencari kampus kesehatan, calon mahasiswa dapat membuat daftar pemeriksaan sederhana.

Jangan hanya melihat apakah ruangan terlihat besar atau peralatan terlihat banyak.

Pertimbangkan fungsi fasilitas tersebut terhadap pembelajaran.

Beberapa hal yang dapat diperiksa:

  • Ketersediaan laboratorium sesuai program studi.
  • Jenis simulasi yang dapat dilakukan.
  • Ketersediaan peralatan pembelajaran.
  • Sistem penggunaan laboratorium.
  • Jadwal praktikum.
  • Pendampingan dosen atau instruktur.
  • Sistem evaluasi keterampilan.
  • Ketersediaan fasilitas praktik lapangan.
  • Fasilitas pendukung seperti perpustakaan dan e-learning.
  • Informasi resmi mengenai kegiatan akademik.

STIKES Istara secara resmi mencantumkan ruang kelas, laboratorium, perpustakaan, fasilitas teknologi dan e-learning, serta area praktik lapangan sebagai bagian dari fasilitas pendukung pembelajaran. (stikes-istara.ac.id)

Informasi seperti ini lebih bermanfaat bagi calon mahasiswa dibandingkan sekadar melihat foto gedung kampus.

Perpustakaan Tetap Penting Meskipun Banyak Praktikum

Mahasiswa yang menyukai kegiatan praktik terkadang menganggap perpustakaan kurang penting.

Padahal, praktikum tetap membutuhkan dasar teori.

Mahasiswa perlu membaca buku, jurnal, modul, pedoman, dan berbagai sumber akademik untuk memahami materi yang akan dipraktikkan.

STIKES Istara mencantumkan perpustakaan dengan koleksi buku dan jurnal, e-library, serta ruang baca sebagai salah satu fasilitas kampusnya. (stikes-istara.ac.id)

Kebiasaan menggunakan sumber akademik dapat membantu mahasiswa memahami mengapa suatu keterampilan dilakukan dengan cara tertentu.

Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya mengetahui “bagaimana melakukan”, tetapi juga memahami dasar ilmu yang melatarbelakanginya.

Untuk standar perpustakaan perguruan tinggi, calon mahasiswa juga dapat merujuk pada Perpustakaan Nasional Republik Indonesia dan regulasi nasional yang berlaku sebagai sumber resmi.

Teknologi Juga Mendukung Praktikum

Pembelajaran mahasiswa kesehatan saat ini tidak hanya mengandalkan buku cetak dan kegiatan laboratorium.

Teknologi dapat membantu mahasiswa mengakses materi pembelajaran, modul digital, video demonstrasi, referensi, dan sistem pembelajaran elektronik.

STIKES Istara mencantumkan fasilitas IT dan e-learning dalam informasi fasilitas resminya, termasuk akses Wi-Fi, sistem e-learning, dan laboratorium komputer. (stikes-istara.ac.id)

Teknologi tersebut dapat menjadi pendukung sebelum dan setelah praktikum.

Mahasiswa dapat mempelajari materi terlebih dahulu secara digital, kemudian mengikuti praktik, lalu menggunakan kembali materi pembelajaran untuk melakukan review.

Pola seperti ini membantu menciptakan pembelajaran yang lebih fleksibel.

Praktikum Tidak Harus Membuat Mahasiswa Takut

Banyak calon mahasiswa merasa khawatir ketika mendengar istilah praktikum.

Ada yang membayangkan kegiatan tersebut terlalu sulit atau takut melakukan kesalahan.

Padahal, praktikum merupakan bagian dari proses belajar.

Mahasiswa memang dapat melakukan kesalahan ketika berlatih. Justru melalui koreksi tersebut mahasiswa mengetahui bagian yang perlu diperbaiki.

Hal yang perlu diperhatikan adalah mengikuti arahan pengajar dan tidak mencoba melakukan tindakan di luar kompetensi atau instruksi pembelajaran.

Kesiapan mental menjadi penting.

Mahasiswa perlu memiliki kemauan untuk belajar, bertanya, berlatih, dan menerima evaluasi.

Tips Agar Praktikum Lebih Mudah Dipahami

Mahasiswa dapat menerapkan beberapa kebiasaan sederhana agar kegiatan praktikum lebih efektif.

1. Pelajari Materi Sebelum Praktikum

Jangan menunggu penjelasan di laboratorium.

Baca materi atau modul terlebih dahulu agar memiliki gambaran tentang kegiatan yang akan dilakukan.

2. Catat Langkah Penting

Ketika dosen memberikan penjelasan, catat bagian yang dianggap penting.

Catatan tersebut dapat digunakan untuk belajar kembali.

3. Perhatikan Demonstrasi

Jangan terburu-buru mencoba sebelum memahami contoh yang diberikan.

Amati urutan tindakan dan tanyakan bagian yang belum jelas.

4. Berlatih Secara Bertahap

Tidak perlu langsung mengejar kecepatan.

Utamakan pemahaman prosedur dan ketelitian terlebih dahulu.

5. Terima Koreksi

Koreksi dari dosen atau instruktur merupakan bagian dari pembelajaran.

Gunakan masukan tersebut untuk memperbaiki latihan berikutnya.

6. Jangan Takut Bertanya

Jika tidak memahami suatu prosedur, bertanya jauh lebih baik daripada menebak.

7. Review Setelah Praktikum

Setelah kegiatan selesai, luangkan waktu untuk mengingat kembali apa yang telah dipelajari.

Cara ini membantu memperkuat pemahaman.

Bagaimana Jika Mahasiswa Tidak Langsung Bisa?

Tidak semua mahasiswa mempunyai kecepatan belajar yang sama.

Ada mahasiswa yang langsung memahami prosedur setelah demonstrasi, sementara mahasiswa lain membutuhkan beberapa kali latihan.

Hal tersebut tidak otomatis berarti mahasiswa tersebut tidak cocok kuliah kesehatan.

Keterampilan dapat berkembang melalui latihan yang konsisten.

Yang penting adalah mengetahui bagian yang masih menjadi kendala dan mencari cara untuk memperbaikinya.

Mahasiswa dapat berdiskusi dengan teman, bertanya kepada dosen, membaca kembali modul, atau melakukan latihan sesuai fasilitas yang tersedia.

Sikap seperti ini justru penting untuk membangun kemampuan belajar mandiri.

Apakah Praktikum Membantu Saat Mencari Kerja?

Praktikum merupakan bagian dari pendidikan, bukan jaminan otomatis mendapatkan pekerjaan.

Namun, pengalaman pembelajaran yang mengembangkan keterampilan dapat menjadi bagian dari proses pembentukan kompetensi mahasiswa.

Setelah menyelesaikan pendidikan, peluang karier tetap dipengaruhi oleh program studi, kompetensi, persyaratan profesi, regulasi, pengalaman, serta kebutuhan tenaga kesehatan.

Karena itu, calon mahasiswa sebaiknya tidak memilih kampus hanya karena klaim bahwa “praktik banyak berarti pasti cepat kerja”.

Informasi mengenai pendidikan dan tenaga kesehatan sebaiknya selalu diperiksa melalui sumber resmi pemerintah serta institusi pendidikan.

Praktikum di STIKES untuk Setiap Program Studi Tidak Sama

Hal penting yang harus diingat adalah kegiatan praktikum sangat bergantung pada bidang ilmu.

Jika memilih keperawatan, fokus keterampilannya akan berkaitan dengan keperawatan.

Jika memilih kebidanan, fokusnya akan berkaitan dengan kebidanan.

Jika memilih kesehatan masyarakat, bentuk praktiknya dapat lebih banyak berkaitan dengan pendekatan populasi, epidemiologi, gizi, kesehatan lingkungan, promosi kesehatan, dan kegiatan lain sesuai kurikulum.

Oleh sebab itu, calon mahasiswa harus membaca informasi program studi secara spesifik.

Jangan menggunakan pengalaman mahasiswa dari satu jurusan untuk menggambarkan seluruh program kesehatan.

Pertanyaan yang Bisa Ditanyakan Saat Memilih Kampus

Sebelum mendaftar, calon mahasiswa dapat menyiapkan beberapa pertanyaan untuk pihak kampus.

Misalnya:

  • Apa saja laboratorium yang tersedia?
  • Apa fungsi masing-masing laboratorium?
  • Kegiatan praktikum dilakukan mulai semester berapa?
  • Bagaimana sistem evaluasi praktikum?
  • Apakah mahasiswa memperoleh praktik lapangan?
  • Di mana praktik lapangan dilaksanakan?
  • Bagaimana sistem pendampingan?
  • Apa saja fasilitas penunjang pembelajaran?
  • Bagaimana mahasiswa mengakses bahan pembelajaran?
  • Apakah informasi kurikulum tersedia secara resmi?

Pertanyaan tersebut dapat membantu calon mahasiswa memperoleh gambaran lebih konkret.

Memahami Praktikum Sebelum Memilih Program Studi

Pada akhirnya, calon mahasiswa tidak perlu menghindari jurusan hanya karena mendengar bahwa kegiatan praktiknya cukup banyak.

Justru bagi mahasiswa yang menyukai pembelajaran aktif, praktikum dapat menjadi salah satu bagian yang menarik selama kuliah.

Yang perlu diperhatikan adalah apakah jenis praktikum tersebut sesuai dengan minat.

Jika tertarik dengan asuhan pasien dan pelayanan keperawatan, keperawatan dapat dipertimbangkan.

Jika lebih tertarik pada kesehatan perempuan dan anak serta pelayanan kebidanan, kebidanan dapat dipertimbangkan.

Jika lebih tertarik pada kesehatan masyarakat dan pendekatan berbasis populasi, kesehatan masyarakat mempunyai karakter pembelajaran yang berbeda.

Dengan memahami perbedaan tersebut, calon mahasiswa dapat menentukan pilihan berdasarkan informasi yang lebih lengkap.

Praktikum di STIKES pada dasarnya merupakan bagian dari proses pembelajaran untuk menghubungkan teori dengan keterampilan. Kegiatan tersebut dapat berlangsung melalui laboratorium, simulasi, latihan, evaluasi, hingga praktik lapangan sesuai program studi dan tahap pendidikan.

Karena itu, calon mahasiswa sebaiknya tidak hanya bertanya apakah suatu kampus memiliki banyak praktikum. Pertanyaan yang lebih penting adalah praktikum apa yang dilakukan, bagaimana mahasiswa dibimbing, fasilitas apa yang tersedia, dan bagaimana kegiatan tersebut mendukung kompetensi program studi.

Informasi resmi mengenai pendidikan tinggi dan bidang kesehatan sebaiknya selalu menjadi rujukan utama ketika membuat keputusan. Untuk aspek kesehatan, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dapat digunakan sebagai sumber informasi resmi, sedangkan informasi spesifik mengenai program studi dan fasilitas perlu diperiksa melalui website institusi masing-masing.

happy Praktikum di STIKES Seperti Apa? Kenali Kegiatan Mahasiswa Kesehatan
Happy
0 %
sad Praktikum di STIKES Seperti Apa? Kenali Kegiatan Mahasiswa Kesehatan
Sad
0 %
excited Praktikum di STIKES Seperti Apa? Kenali Kegiatan Mahasiswa Kesehatan
Excited
0 %
sleepy Praktikum di STIKES Seperti Apa? Kenali Kegiatan Mahasiswa Kesehatan
Sleepy
0 %
angry Praktikum di STIKES Seperti Apa? Kenali Kegiatan Mahasiswa Kesehatan
Angry
0 %
surprise Praktikum di STIKES Seperti Apa? Kenali Kegiatan Mahasiswa Kesehatan
Surprise
0 %

You May Have Missed