Loading Now
×

Praktikum Mahasiswa Kesehatan, Kenapa Porsinya Lebih Banyak?

Praktikum mahasiswa kesehatan di laboratorium untuk melatih keterampilan klinis

Praktikum Mahasiswa Kesehatan, Kenapa Porsinya Lebih Banyak?

0 0
Read Time:21 Minute, 13 Second

Bagi calon mahasiswa yang baru mempertimbangkan kuliah di bidang kesehatan, ada satu hal yang sering membuat penasaran: kenapa praktikum mahasiswa kesehatan terlihat lebih banyak dibandingkan beberapa jurusan lainnya?

Pertanyaan tersebut cukup masuk akal. Kuliah kesehatan memang tidak hanya berisi materi teori di ruang kelas. Mahasiswa juga perlu mengikuti berbagai kegiatan praktik, simulasi, demonstrasi keterampilan, studi kasus, hingga praktik lapangan sesuai program studi dan tahap pendidikannya.

Alasannya bukan sekadar karena mahasiswa kesehatan harus “lebih sering berada di laboratorium”. Pendidikan tenaga kesehatan memang membutuhkan penguasaan pengetahuan sekaligus keterampilan. Kementerian Kesehatan menjelaskan bahwa kemampuan tenaga kesehatan mencakup pengetahuan, keterampilan, dan perilaku profesional yang perlu diukur serta distandarkan.

Karena itu, praktikum menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran. Mahasiswa tidak cukup hanya memahami bagaimana sebuah prosedur dilakukan melalui buku atau penjelasan dosen. Mereka juga perlu mendapatkan kesempatan untuk mempraktikkannya dalam lingkungan pembelajaran yang aman dan terkontrol.

Apa Itu Praktikum Mahasiswa Kesehatan?

Secara sederhana, praktikum adalah kegiatan pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk menerapkan konsep atau teori secara langsung.

Dalam pendidikan kesehatan, bentuk praktik dapat berbeda-beda tergantung program studi.

Mahasiswa keperawatan, misalnya, dapat berlatih keterampilan pemeriksaan dan prosedur keperawatan. Mahasiswa kebidanan memiliki kegiatan praktik yang berkaitan dengan asuhan kebidanan. Sementara mahasiswa farmasi membutuhkan pengalaman laboratorium yang berkaitan dengan ilmu dan keterampilan kefarmasian.

Di STIKES Istara, halaman fasilitas resmi menyebutkan adanya laboratorium keperawatan untuk praktik keterampilan dasar dan klinis, laboratorium kebidanan untuk simulasi asuhan kebidanan ibu dan anak, serta laboratorium kesehatan masyarakat untuk praktik yang berkaitan dengan epidemiologi, gizi, dan kesehatan lingkungan.

Artinya, praktikum bukan satu jenis kegiatan yang dilakukan oleh seluruh mahasiswa kesehatan dengan cara yang sama.

Materi dan bentuk praktik akan mengikuti kompetensi program studi masing-masing.

Kenapa Praktikum Mahasiswa Kesehatan Lebih Banyak?

Ada beberapa alasan utama mengapa mahasiswa kesehatan perlu mendapatkan pengalaman praktik yang cukup.

Pertama, tenaga kesehatan akan berhadapan dengan situasi nyata yang membutuhkan keterampilan, bukan hanya pengetahuan.

Kedua, beberapa keterampilan membutuhkan latihan berulang agar mahasiswa dapat melakukan prosedur secara tepat.

Ketiga, praktik membantu mahasiswa memahami hubungan antara teori dan kondisi yang ditemukan di lapangan.

Keempat, simulasi memberikan kesempatan untuk melakukan kesalahan dan memperbaikinya sebelum mahasiswa menghadapi situasi pelayanan kesehatan yang sebenarnya.

Standar laboratorium pendidikan kesehatan dari Kementerian Kesehatan juga menjelaskan bahwa pembelajaran di laboratorium diperlukan untuk membantu menghasilkan tenaga kesehatan yang berkualitas dan profesional sesuai standar kompetensi lulusan serta kompetensi kerja.

Jadi, banyaknya praktikum bukan berarti teori dianggap tidak penting.

Justru teori menjadi dasar sebelum keterampilan tersebut dipraktikkan.

Teori dan Praktik Tidak Bisa Dipisahkan

Dalam pendidikan kesehatan, teori dan praktik memiliki hubungan yang sangat erat.

Bayangkan mahasiswa mempelajari teori tentang tanda-tanda vital.

Mereka dapat memahami definisi tekanan darah, denyut nadi, frekuensi pernapasan, dan suhu tubuh melalui buku atau kuliah.

Namun, memahami definisi saja belum tentu membuat mahasiswa mampu melakukan pemeriksaan dengan benar.

Mahasiswa masih perlu belajar:

  • Menyiapkan alat.
  • Menjelaskan prosedur.
  • Memposisikan pasien.
  • Menggunakan alat dengan benar.
  • Membaca hasil pemeriksaan.
  • Mencatat hasil.
  • Menginterpretasikan data sesuai konteks pembelajaran.
  • Berkomunikasi dengan pasien.

Di sinilah praktik mempunyai peran.

Mahasiswa mengubah informasi yang sebelumnya hanya ada di dalam catatan kuliah menjadi keterampilan yang dapat dilakukan secara langsung.

Praktikum Membantu Mahasiswa Mengingat Materi

Ada alasan lain mengapa kegiatan praktik sering terasa lebih melekat dibandingkan sekadar membaca materi.

Ketika belajar melalui praktik, mahasiswa menggunakan lebih dari satu proses belajar.

Mereka membaca instruksi, mendengarkan penjelasan dosen, melihat demonstrasi, kemudian mencoba melakukan prosedur.

Proses tersebut membuat mahasiswa tidak hanya menghafal teori, tetapi juga memahami bagaimana konsep tersebut diterapkan.

Misalnya, mahasiswa yang mempelajari prosedur tertentu tidak hanya mengetahui urutan langkahnya.

Mereka juga mulai memahami:

  • Alat apa yang digunakan.
  • Mengapa langkah tertentu harus dilakukan.
  • Apa risiko jika prosedur tidak tepat.
  • Bagaimana menjaga keselamatan.
  • Bagaimana berkomunikasi dengan pasien.
  • Bagaimana mengevaluasi hasil tindakan.

Pembelajaran menjadi lebih kontekstual.

Laboratorium Menjadi Tempat Belajar yang Aman

Salah satu fungsi penting laboratorium adalah menyediakan lingkungan latihan sebelum mahasiswa berhadapan dengan kondisi nyata.

Mahasiswa dapat melakukan simulasi dengan alat praktik, manekin, atau skenario kasus yang disiapkan dosen.

Hal tersebut memungkinkan mahasiswa mendapatkan pengalaman tanpa langsung membebani pasien nyata.

Kementerian Kesehatan juga menempatkan laboratorium sebagai bagian penting dalam pembelajaran tenaga kesehatan dan menekankan perlunya sarana serta prasarana yang mendukung praktik pembelajaran.

Karena itu, keberadaan laboratorium tidak sekadar menjadi fasilitas tambahan di kampus.

Laboratorium merupakan salah satu bagian dari lingkungan belajar mahasiswa kesehatan.

Praktik Berulang Membantu Membangun Kepercayaan Diri

Mahasiswa yang pertama kali melakukan suatu prosedur tentu dapat merasa gugup.

Hal tersebut merupakan sesuatu yang wajar.

Prosedur yang terlihat sederhana ketika dilakukan oleh tenaga kesehatan profesional bisa terasa berbeda ketika pertama kali dipelajari.

Dengan latihan berulang, mahasiswa dapat memahami alur tindakan secara lebih baik.

Mereka juga dapat mengetahui bagian mana yang masih perlu diperbaiki.

Dalam pendidikan keperawatan di STIKES Istara, misalnya, halaman program studi menyebutkan adanya fasilitas laboratorium keterampilan dasar dan simulasi pasien yang memungkinkan mahasiswa berlatih beberapa prosedur seperti pemasangan infus, perawatan luka, pemantauan tanda vital, dan resusitasi jantung paru dalam lingkungan pembelajaran.

Latihan seperti ini membantu mahasiswa membangun kesiapan sebelum memasuki pengalaman klinis yang lebih kompleks.

Praktikum Bukan Sekadar Mengikuti Instruksi

Ada anggapan bahwa praktikum hanya berarti mengikuti langkah-langkah yang diberikan dosen.

Padahal, pembelajaran praktik yang baik juga melatih kemampuan berpikir.

Mahasiswa tidak hanya dituntut untuk tahu “apa yang harus dilakukan”, tetapi juga memahami alasan di balik tindakan tersebut.

Misalnya, ketika menghadapi sebuah skenario pasien, mahasiswa dapat diminta untuk menentukan prioritas tindakan berdasarkan informasi yang tersedia.

Proses tersebut melatih kemampuan:

  • Observasi.
  • Analisis.
  • Pengambilan keputusan.
  • Komunikasi.
  • Pemecahan masalah.
  • Evaluasi.
  • Kerja sama tim.

Keterampilan tersebut menjadi penting karena lingkungan pelayanan kesehatan tidak selalu menghadirkan kondisi yang sama seperti contoh di buku.

Mengapa Mahasiswa Kesehatan Perlu Belajar dari Kasus?

Kasus membantu mahasiswa memahami bahwa satu konsep dapat diterapkan pada situasi yang berbeda.

Dua pasien dengan keluhan yang terlihat serupa belum tentu memiliki kondisi yang sama.

Karena itu, pendidikan kesehatan membutuhkan pembelajaran berbasis kasus dan simulasi agar mahasiswa terbiasa menganalisis informasi.

Halaman Program Studi Keperawatan STIKES Istara menyebutkan pendekatan berbasis kasus atau case-based learning sebagai bagian dari pembelajaran sejak semester awal.

Pendekatan seperti ini membuat kegiatan praktikum tidak hanya berorientasi pada keterampilan tangan.

Mahasiswa juga belajar menghubungkan data, teori, dan keputusan yang tepat dalam sebuah skenario pembelajaran.

Perbedaan Praktikum dan Praktik Klinik

Keduanya sering dianggap sama, padahal memiliki konteks berbeda.

Praktikum umumnya dilakukan dalam lingkungan pembelajaran, seperti laboratorium atau ruang simulasi kampus.

Sementara praktik klinik memberikan pengalaman di fasilitas pelayanan kesehatan sesuai program studi, kurikulum, dan ketentuan institusi.

Secara sederhana:

  • Praktikum memberikan ruang untuk latihan dan simulasi.
  • Praktik klinik memberikan pengalaman dalam lingkungan pelayanan kesehatan.
  • Praktikum membantu mahasiswa mempersiapkan keterampilan.
  • Praktik klinik membantu mahasiswa menerapkan pembelajaran dalam konteks pelayanan.
  • Keduanya saling melengkapi.

Karena itu, mahasiswa biasanya tidak langsung diarahkan untuk melakukan prosedur kompleks pada pasien tanpa mendapatkan pembekalan terlebih dahulu.

Mengapa Simulasi Penting Sebelum Praktik Lapangan?

Simulasi menjadi jembatan antara teori dan pengalaman klinis.

Mahasiswa dapat berlatih menghadapi skenario tertentu dalam kondisi yang dikontrol oleh dosen atau instruktur.

Misalnya, sebuah simulasi dapat dibuat berdasarkan kondisi pasien tertentu.

Mahasiswa kemudian diminta melakukan pemeriksaan, menentukan tindakan sesuai tujuan pembelajaran, berkomunikasi, dan mengevaluasi hasil.

Setelah itu, dosen dapat memberikan umpan balik.

Proses seperti ini memungkinkan mahasiswa mengetahui kesalahan sebelum mereka menghadapi situasi yang lebih kompleks.

STIKES Istara saat ini juga menampilkan pembelajaran berbasis simulasi sebagai salah satu aktivitas akademik yang digunakan untuk meningkatkan kepercayaan diri mahasiswa.

Baca Juga: S1 Keperawatan Bisa Kerja Jadi Apa? Ini Prospek Kariernya

image-52-1024x683 Praktikum Mahasiswa Kesehatan, Kenapa Porsinya Lebih Banyak?

Praktikum Setiap Program Studi Bisa Berbeda

Penting untuk dipahami bahwa istilah “mahasiswa kesehatan” mencakup banyak bidang.

Keperawatan, kebidanan, farmasi, kesehatan masyarakat, gizi, teknologi laboratorium medis, dan bidang kesehatan lainnya memiliki kompetensi yang berbeda.

Karena itu, bentuk praktikum juga tidak bisa disamaratakan.

Keperawatan

Praktikum dapat berhubungan dengan keterampilan dasar keperawatan, pemeriksaan pasien, simulasi kondisi klinis, komunikasi, dan prosedur keperawatan sesuai kompetensi pembelajaran.

Kebidanan

Praktik dapat berhubungan dengan keterampilan asuhan kebidanan, kesehatan ibu dan anak, pemeriksaan kehamilan, persalinan, masa nifas, dan bayi baru lahir sesuai kurikulum serta kewenangan pembelajaran.

Farmasi

Mahasiswa dapat membutuhkan kegiatan laboratorium yang berkaitan dengan ilmu farmasi, seperti formulasi, analisis, farmasetika, atau bidang lain sesuai kurikulum program studi.

Kesehatan Masyarakat

Praktik dapat berhubungan dengan epidemiologi, promosi kesehatan, kesehatan lingkungan, pengumpulan data, dan kegiatan berbasis masyarakat.

Halaman Program Studi STIKES Istara sendiri menjelaskan bahwa setiap program studi mempunyai fokus pembelajaran dan dukungan praktik yang berbeda sesuai kompetensinya.

Praktikum Membantu Menghubungkan Kampus dengan Dunia Kerja

Tujuan pendidikan kesehatan bukan hanya membuat mahasiswa mampu mengerjakan soal ujian.

Lulusan juga diharapkan mempunyai kompetensi yang relevan dengan bidangnya.

Karena itu, pengalaman praktik menjadi bagian penting dalam proses pendidikan.

Kementerian Kesehatan menjelaskan bahwa kemampuan tenaga kesehatan perlu terukur dan terstandar agar dapat mendukung pelayanan kesehatan yang berkualitas.

Dari perspektif mahasiswa, hal tersebut berarti proses belajar perlu diarahkan pada penguasaan pengetahuan dan keterampilan.

Praktikum menjadi salah satu sarana untuk membangun kemampuan tersebut sejak masa pendidikan.

Apakah Banyak Praktikum Berarti Kuliahnya Lebih Sulit?

Belum tentu.

Banyak praktikum memang dapat membuat jadwal mahasiswa terasa lebih padat, terutama ketika harus membagi waktu antara kuliah teori, laporan, tugas, ujian, dan kegiatan praktik.

Namun, tingkat kesulitan kuliah tidak hanya ditentukan oleh jumlah praktikum.

Mahasiswa juga perlu mempertimbangkan karakter program studi.

Ada program studi yang memiliki banyak kegiatan laboratorium, sementara program lain mungkin lebih banyak menggunakan diskusi kasus, penelitian, kegiatan lapangan, atau bentuk pembelajaran lainnya.

Yang penting adalah memahami sejak awal bahwa pendidikan kesehatan memang membutuhkan keterlibatan aktif.

Mahasiswa tidak bisa hanya mengandalkan sistem belajar semalam sebelum ujian.

Laporan Praktikum Juga Menjadi Bagian Pembelajaran

Bagi mahasiswa baru, laporan praktikum sering menjadi salah satu bagian yang cukup menantang.

Setelah praktik selesai, mahasiswa mungkin perlu mendokumentasikan proses pembelajaran sesuai instruksi dosen.

Laporan dapat melatih mahasiswa untuk:

  • Menulis secara sistematis.
  • Mendokumentasikan kegiatan.
  • Menganalisis hasil.
  • Membandingkan teori dan praktik.
  • Menjelaskan kesalahan atau kendala.
  • Menyusun pembahasan.
  • Menarik pembelajaran dari kegiatan.

Karena itu, laporan bukan hanya tugas administratif.

Jika dikerjakan dengan benar, laporan dapat membantu mahasiswa memahami kembali apa yang sudah dilakukan selama praktikum.

Kesalahan Saat Praktikum Bisa Menjadi Bahan Belajar

Salah satu keuntungan latihan di laboratorium adalah mahasiswa dapat menerima koreksi.

Misalnya, mahasiswa melakukan suatu prosedur dengan urutan yang kurang tepat.

Dosen atau instruktur dapat menghentikan proses, menjelaskan kesalahan, kemudian meminta mahasiswa mengulanginya.

Pengalaman tersebut justru dapat menjadi pembelajaran yang sangat berharga.

Mahasiswa menjadi tahu bukan hanya bagaimana melakukan prosedur dengan benar, tetapi juga mengapa kesalahan tersebut perlu dihindari.

Dalam lingkungan belajar yang terkontrol, proses koreksi dapat dilakukan sebelum mahasiswa menghadapi situasi pelayanan kesehatan yang sebenarnya.

Bagaimana Mahasiswa Bisa Menikmati Banyak Praktikum?

Banyaknya praktikum tidak harus dianggap sebagai beban jika mahasiswa mempunyai strategi belajar yang tepat.

Beberapa kebiasaan sederhana dapat membantu.

  • Baca modul sebelum masuk laboratorium.
  • Catat langkah prosedur yang dianggap sulit.
  • Perhatikan demonstrasi dosen.
  • Jangan malu bertanya.
  • Latih kembali prosedur yang belum dikuasai.
  • Buat catatan singkat setelah praktikum.
  • Kerjakan laporan secara bertahap.
  • Belajar bersama teman untuk saling mengevaluasi.
  • Jangan menunda persiapan sebelum ujian praktik.

Persiapan sebelum praktikum sering kali membuat kegiatan menjadi lebih mudah.

Mahasiswa yang datang tanpa memahami materi dasar biasanya akan membutuhkan waktu lebih lama untuk mengikuti prosedur.

Manfaat Belajar Praktik Bersama Teman

Kegiatan praktikum juga dapat melatih kerja sama.

Dalam beberapa skenario, mahasiswa mungkin perlu bekerja secara berpasangan atau berkelompok.

Mereka belajar membagi peran, berkomunikasi, memberikan masukan, dan menjaga koordinasi.

Kemampuan seperti ini relevan dengan lingkungan kerja kesehatan karena pelayanan sering melibatkan lebih dari satu tenaga profesional.

Kerja sama bukan berarti sekadar menyelesaikan tugas kelompok.

Mahasiswa juga belajar bagaimana menyampaikan informasi secara jelas dan menerima koreksi dari orang lain.

Praktikum Membentuk Sikap Profesional

Kompetensi tenaga kesehatan tidak hanya berkaitan dengan kemampuan teknis.

Sikap profesional juga penting.

Selama praktikum, mahasiswa dapat mulai dibiasakan untuk:

  • Datang tepat waktu.
  • Mengikuti prosedur keselamatan.
  • Menjaga kebersihan.
  • Merawat peralatan.
  • Menghormati instruktur.
  • Menjaga komunikasi.
  • Bertanggung jawab terhadap tugas.
  • Mengikuti standar operasional yang ditetapkan.

Kebiasaan tersebut mungkin terlihat sederhana, tetapi menjadi bagian dari pembentukan sikap profesional.

Keselamatan Menjadi Bagian Penting dalam Praktikum

Praktikum kesehatan tidak boleh dilakukan sembarangan.

Ada prosedur keselamatan yang harus dipatuhi sesuai jenis kegiatan dan fasilitas yang digunakan.

Kementerian Kesehatan dalam berbagai standar dan pelatihan tenaga kesehatan juga menekankan aspek kompetensi, keselamatan, pengendalian mutu, serta prosedur yang sesuai standar. Misalnya, pelatihan laboratorium kesehatan Kemenkes mencakup pengendalian mutu dan prosedur teknis sesuai kompetensi yang ditetapkan.

Dalam lingkungan pendidikan, prinsip tersebut diterjemahkan sesuai tingkat pembelajaran mahasiswa.

Artinya, mahasiswa tidak hanya belajar “cara melakukan sesuatu”, tetapi juga “cara melakukannya dengan aman dan bertanggung jawab”.

Fasilitas Kampus Berpengaruh terhadap Pengalaman Praktik

Kualitas pengalaman praktik juga berkaitan dengan fasilitas yang tersedia.

Laboratorium yang memiliki alat sesuai kebutuhan pembelajaran dapat membantu mahasiswa berlatih dengan lebih baik.

STIKES Istara pada halaman fasilitas resminya menyebutkan beberapa fasilitas laboratorium, ruang kelas, perpustakaan, area praktik lapangan, serta fasilitas IT dan e-learning yang mendukung proses pembelajaran mahasiswa.

Mahasiswa yang sedang mempertimbangkan kampus kesehatan dapat menjadikan fasilitas praktik sebagai salah satu aspek yang diperiksa.

Bukan berarti kampus dengan alat paling banyak otomatis menjadi yang terbaik.

Yang lebih penting adalah apakah fasilitas tersebut relevan dengan program studi, digunakan dalam pembelajaran, dirawat dengan baik, dan mendukung pencapaian kompetensi mahasiswa.

Praktikum dan Kesiapan Menghadapi Dunia Kerja

Salah satu alasan praktikum mahasiswa kesehatan mendapatkan porsi cukup besar adalah karena mahasiswa perlu terbiasa menerapkan pengetahuan dalam situasi yang menyerupai kondisi pekerjaan.

Lulusan bidang kesehatan nantinya tidak hanya dituntut memahami teori. Mereka juga membutuhkan keterampilan sesuai kompetensi profesinya, kemampuan berkomunikasi, ketelitian, kedisiplinan, dan sikap profesional.

Karena itu, pengalaman praktik sejak masa kuliah dapat menjadi bagian dari proses mempersiapkan mahasiswa menghadapi lingkungan kerja.

Praktikum bukan berarti mahasiswa sudah bekerja sebagai tenaga kesehatan. Kegiatan tersebut tetap berada dalam konteks pendidikan dan dilakukan berdasarkan tujuan pembelajaran, supervisi, serta kewenangan mahasiswa.

Namun, pengalaman tersebut dapat membantu mahasiswa memahami seperti apa penerapan teori ketika berhadapan dengan alat, prosedur, kasus, maupun lingkungan kerja.

Praktikum Mengajarkan Hal yang Tidak Selalu Didapat dari Buku

Buku dapat menjelaskan sebuah prosedur secara sangat lengkap.

Namun, ketika mahasiswa mencoba melakukannya sendiri, mereka mungkin menemukan tantangan yang sebelumnya tidak terpikirkan.

Misalnya, mahasiswa harus memperhatikan posisi tubuh, cara memegang alat, urutan tindakan, komunikasi dengan pasien simulasi, kebersihan, hingga waktu pelaksanaan.

Pengalaman tersebut membuat proses belajar menjadi lebih nyata.

Mahasiswa juga dapat menemukan bagian yang belum mereka pahami ketika teori diterapkan.

Inilah salah satu alasan mengapa praktik menjadi bagian penting dalam pendidikan kesehatan.

Bagaimana Praktikum Membantu Mahasiswa Mengembangkan Skill?

Kegiatan praktik dapat membantu mahasiswa mengembangkan berbagai kemampuan secara bersamaan.

Beberapa di antaranya:

  • Keterampilan teknis sesuai bidang studi.
  • Kemampuan menggunakan peralatan.
  • Komunikasi.
  • Kerja sama.
  • Ketelitian.
  • Pemecahan masalah.
  • Pengambilan keputusan dalam skenario pembelajaran.
  • Manajemen waktu.
  • Sikap profesional.

Keterampilan tersebut tidak semuanya dapat diperoleh hanya dengan membaca materi kuliah.

Mahasiswa membutuhkan pengalaman langsung agar dapat memahami bagaimana pengetahuan digunakan dalam situasi tertentu.

Praktikum Keperawatan

Pada program studi keperawatan, kegiatan praktik dapat mencakup berbagai keterampilan dasar dan klinis sesuai kurikulum.

Mahasiswa dapat berlatih melalui simulasi sebelum mendapatkan pengalaman praktik di lingkungan pelayanan kesehatan.

STIKES Istara menjelaskan bahwa Program Studi S1 Keperawatan didukung laboratorium keterampilan dasar dan simulasi pasien. Fasilitas tersebut digunakan untuk mendukung pembelajaran keterampilan keperawatan seperti pemeriksaan tanda vital, perawatan luka, pemasangan infus, dan resusitasi jantung paru sesuai konteks pembelajaran. (stikes-istara.ac.id)

Mahasiswa tidak hanya belajar menghafal prosedur.

Mereka juga perlu memahami tujuan tindakan, keselamatan, komunikasi, serta alasan mengapa setiap langkah harus dilakukan dengan benar.

Praktikum Kebidanan

Kegiatan praktik pada kebidanan memiliki karakteristik berbeda karena berkaitan dengan kesehatan ibu dan anak.

Mahasiswa dapat memperoleh pembelajaran melalui simulasi dan praktik yang disesuaikan dengan kompetensi program studi.

Di STIKES Istara, laboratorium kebidanan digunakan untuk mendukung simulasi asuhan kebidanan, termasuk pembelajaran yang berkaitan dengan ibu hamil, persalinan, masa nifas, bayi baru lahir, serta pelayanan kesehatan reproduksi sesuai konteks pendidikan. (stikes-istara.ac.id)

Hal tersebut menunjukkan mengapa mahasiswa kebidanan membutuhkan pengalaman praktik.

Banyak konsep dalam kebidanan berkaitan dengan keterampilan pemeriksaan, komunikasi, observasi, dan pengambilan keputusan berdasarkan kondisi yang ditemukan.

Praktikum Farmasi

Mahasiswa farmasi juga membutuhkan pengalaman laboratorium.

Bidang farmasi memiliki berbagai aspek yang tidak cukup dipelajari melalui teori, termasuk pengenalan bahan, formulasi, analisis, proses pembuatan, serta berbagai keterampilan laboratorium sesuai kurikulum.

Karena itu, kegiatan praktikum menjadi bagian yang penting dalam proses pembelajaran.

Mahasiswa belajar menggunakan alat, mengikuti prosedur, melakukan pengamatan, mencatat hasil, dan memahami hubungan antara teori dengan hasil praktik.

Semakin sering mahasiswa berlatih dengan supervisi yang tepat, semakin terbiasa pula mereka bekerja secara sistematis.

Praktikum Kesehatan Masyarakat

Kesehatan masyarakat mempunyai karakter praktik yang berbeda dengan keperawatan atau farmasi.

Kegiatannya tidak selalu berpusat pada laboratorium klinis.

Mahasiswa dapat mempelajari pengumpulan data, epidemiologi, promosi kesehatan, kesehatan lingkungan, komunikasi masyarakat, hingga kegiatan lapangan sesuai tujuan pembelajaran.

STIKES Istara menyebutkan laboratorium kesehatan masyarakat sebagai salah satu fasilitas untuk mendukung pembelajaran yang berkaitan dengan epidemiologi, gizi, dan kesehatan lingkungan. (stikes-istara.ac.id)

Dengan demikian, istilah “praktikum” tidak selalu berarti menggunakan alat laboratorium.

Bentuk praktik dapat mengikuti karakter bidang kesehatan yang dipelajari.

Cara Menghadapi Praktikum agar Tidak Terasa Berat

Mahasiswa baru terkadang merasa kaget ketika mulai mendapatkan jadwal praktikum.

Hal tersebut wajar karena pola belajar di perguruan tinggi berbeda dengan sekolah menengah.

Agar lebih mudah beradaptasi, mahasiswa dapat menerapkan beberapa kebiasaan sederhana.

Baca Materi Sebelum Praktikum

Jangan datang ke laboratorium tanpa mengetahui materi dasar.

Luangkan waktu untuk membaca modul atau instruksi praktikum.

Tidak perlu langsung menghafalkan semuanya.

Pahami terlebih dahulu:

  • Tujuan kegiatan.
  • Alat yang digunakan.
  • Langkah utama.
  • Hal yang harus diperhatikan.
  • Risiko atau kesalahan yang perlu dihindari.

Dengan persiapan tersebut, demonstrasi dosen akan lebih mudah dipahami.

Buat Catatan Singkat

Jangan menulis seluruh penjelasan dosen secara mentah.

Buat catatan yang berisi poin penting dan langkah yang sering terlupakan.

Catatan singkat dapat digunakan kembali ketika mempersiapkan ujian praktik.

Jangan Takut Bertanya

Jika tidak memahami suatu langkah, bertanya justru lebih baik daripada mencoba menebak.

Praktikum merupakan lingkungan pembelajaran.

Dosen dan instruktur berada di sana untuk membantu mahasiswa memahami materi serta memperbaiki kesalahan.

Latihan Bersama Teman

Setelah demonstrasi, mahasiswa dapat melakukan latihan bersama teman sesuai aturan yang diberikan.

Salah satu mahasiswa dapat berperan sebagai pelaksana, sementara yang lain mengamati langkahnya.

Setelah selesai, keduanya dapat saling memberikan masukan.

Metode sederhana ini dapat membantu mahasiswa mengenali kesalahan yang sebelumnya tidak disadari.

Menghadapi Ujian Praktik

Ujian praktik sering terasa berbeda dari ujian teori.

Dalam ujian teori, mahasiswa dapat memiliki waktu untuk membaca pertanyaan dan menyusun jawaban.

Dalam ujian praktik, mahasiswa harus menunjukkan keterampilan secara langsung sesuai skenario atau instruksi.

Karena itu, persiapannya juga berbeda.

Mahasiswa sebaiknya:

  • Memahami alur prosedur.
  • Mengetahui tujuan setiap langkah.
  • Berlatih secara berulang.
  • Menghafal bagian penting tanpa mengabaikan pemahaman.
  • Berlatih komunikasi.
  • Menjaga ketenangan.
  • Memperhatikan keselamatan.
  • Meminta feedback dari dosen atau teman ketika latihan.

Jangan hanya menghafal urutan.

Pahami alasan di balik setiap tindakan.

Jika memahami konsep, mahasiswa biasanya lebih mudah beradaptasi ketika skenario ujian sedikit berbeda.

Praktikum dan IPK

Banyak mahasiswa menganggap praktikum hanya berkaitan dengan keterampilan.

Padahal, kegiatan praktikum juga dapat berhubungan dengan penilaian akademik.

Nilai dapat berasal dari berbagai komponen sesuai kebijakan dosen dan program studi, misalnya kehadiran, kesiapan, performa praktik, laporan, responsi, atau ujian.

Karena itu, mahasiswa tidak sebaiknya menganggap praktikum sebagai kegiatan tambahan yang tidak berpengaruh terhadap akademik.

Setiap institusi dan mata kuliah memiliki sistem penilaian masing-masing.

Mahasiswa perlu memahami kontrak kuliah atau ketentuan mata kuliah sejak awal agar mengetahui komponen penilaian yang harus dipenuhi.

Bagaimana Menyeimbangkan Praktikum dan Teori?

Porsi praktik yang cukup banyak dapat membuat mahasiswa harus pintar mengatur waktu.

Apalagi jika dalam minggu yang sama terdapat kuliah teori, praktikum, laporan, tugas, dan ujian.

Salah satu strategi yang dapat digunakan adalah membuat jadwal berdasarkan prioritas.

Contohnya:

  • Hari pertama: membaca materi praktikum.
  • Hari kedua: mengikuti praktikum.
  • Hari ketiga: menyelesaikan laporan.
  • Hari berikutnya: mengulang materi.
  • Akhir pekan: mengevaluasi materi yang belum dikuasai.

Jadwal tersebut tentu dapat disesuaikan dengan aktivitas masing-masing mahasiswa.

Yang paling penting adalah tidak menumpuk semua tugas pada malam sebelum batas pengumpulan.

Mengapa Laporan Praktikum Jangan Ditunda?

Menunda laporan praktikum sering membuat mahasiswa lupa detail kegiatan.

Padahal, beberapa bagian laporan membutuhkan catatan dari proses praktik.

Setelah praktikum selesai, sebaiknya mahasiswa segera mencatat:

  • Apa yang dilakukan.
  • Hasil pengamatan.
  • Kendala.
  • Kesalahan.
  • Koreksi dari dosen.
  • Hal yang perlu dipelajari kembali.

Dengan begitu, proses menyusun laporan menjadi lebih mudah.

Laporan juga dapat menjadi bahan belajar ketika menghadapi ujian.

Bagaimana Menilai Kampus Kesehatan dari Sisi Praktikum?

Bagi calon mahasiswa, fasilitas praktik dapat menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan ketika memilih kampus.

Namun, jangan hanya melihat apakah kampus memiliki laboratorium atau tidak.

Periksa lebih detail.

Periksa Jenis Laboratorium

Cari tahu apakah laboratorium sesuai dengan program studi yang ingin dipilih.

Mahasiswa keperawatan membutuhkan fasilitas yang berbeda dengan mahasiswa farmasi atau kesehatan masyarakat.

Periksa Ketersediaan Alat

Cari tahu apakah peralatan yang tersedia mendukung kebutuhan pembelajaran.

Perhatikan Penggunaan Laboratorium

Laboratorium yang bagus bukan hanya laboratorium yang terlihat lengkap.

Yang lebih penting adalah apakah mahasiswa benar-benar mendapatkan kesempatan menggunakannya dalam proses pembelajaran.

Cari Informasi Mengenai Simulasi

Simulasi dapat membantu mahasiswa berlatih sebelum mendapatkan pengalaman di lingkungan pelayanan kesehatan.

Perhatikan Pengalaman Praktik Lapangan

Cari tahu bagaimana institusi mengatur pengalaman praktik mahasiswa sesuai program studi dan kurikulum.

Untuk informasi spesifik mengenai fasilitas STIKES Istara, calon mahasiswa dapat melihat Fasilitas Kampus STIKES Istara melalui halaman resmi kampus agar informasi yang diperoleh tetap sesuai dengan fasilitas yang saat ini tercantum. (stikes-istara.ac.id)

Apakah Laboratorium Lengkap Menjamin Pendidikan Berkualitas?

Tidak selalu.

Laboratorium hanyalah salah satu komponen.

Kualitas pendidikan juga dipengaruhi oleh kurikulum, dosen, metode pembelajaran, kesempatan praktik, sistem evaluasi, lingkungan akademik, dan berbagai faktor lainnya.

Karena itu, calon mahasiswa sebaiknya tidak memilih kampus hanya berdasarkan foto laboratorium.

Bandingkan beberapa aspek secara keseluruhan.

  • Program studi.
  • Kurikulum.
  • Fasilitas.
  • Tenaga pengajar.
  • Kegiatan praktik.
  • Lingkungan kampus.
  • Sistem pembelajaran.
  • Informasi resmi mengenai program pendidikan.

Dengan cara tersebut, keputusan memilih kampus menjadi lebih objektif.

Praktikum Membantu Mengurangi Jarak antara Teori dan Realitas

Ada perbedaan antara mengetahui sesuatu dan mampu melakukannya.

Seorang mahasiswa dapat mengetahui teori tentang pemeriksaan pasien, tetapi tetap membutuhkan latihan untuk melakukan pemeriksaan tersebut dengan benar.

Seorang mahasiswa farmasi dapat memahami konsep formulasi, tetapi tetap membutuhkan pengalaman laboratorium untuk memahami bagaimana proses tersebut berlangsung.

Seorang mahasiswa kesehatan masyarakat dapat memahami teori promosi kesehatan, tetapi tetap perlu pengalaman lapangan untuk mengetahui bagaimana berkomunikasi dengan masyarakat.

Praktikum menjadi salah satu jembatan antara dua kondisi tersebut.

Peran Dosen dalam Praktikum

Kualitas praktikum juga tidak terlepas dari peran dosen dan instruktur.

Dosen bukan hanya memberikan instruksi.

Mereka juga memberikan demonstrasi, mengamati mahasiswa, memberikan koreksi, dan mengevaluasi kemampuan.

Feedback menjadi bagian yang sangat penting.

Tanpa feedback, mahasiswa mungkin terus mengulang kesalahan yang sama.

Dengan feedback, mahasiswa mengetahui bagian yang sudah benar dan bagian yang perlu diperbaiki.

Karena itu, mahasiswa sebaiknya tidak hanya mengejar selesai.

Manfaatkan kesempatan praktikum untuk meminta masukan.

Praktikum Melatih Ketelitian

Kesalahan kecil dalam bidang kesehatan dapat memiliki konsekuensi yang serius ketika berada dalam situasi pelayanan nyata.

Karena itu, mahasiswa perlu dibiasakan bekerja secara teliti sejak masa pendidikan.

Praktikum membantu membangun kebiasaan tersebut.

Mahasiswa belajar memeriksa alat, mengikuti urutan, mencatat hasil, dan melakukan evaluasi.

Kebiasaan tersebut dapat menjadi bagian dari pembentukan profesionalisme.

Praktikum Juga Melatih Komunikasi

Kemampuan teknis bukan satu-satunya keterampilan yang diperlukan dalam bidang kesehatan.

Komunikasi juga penting.

Mahasiswa dapat dilatih untuk menjelaskan prosedur kepada pasien simulasi, memberikan informasi, mendengarkan keluhan, serta bekerja sama dengan rekan satu tim.

Keterampilan komunikasi yang baik dapat membantu menciptakan interaksi yang lebih efektif dalam lingkungan pelayanan.

Praktikum Membantu Mahasiswa Mengenali Minatnya

Menariknya, kegiatan praktik juga dapat membantu mahasiswa mengetahui apakah bidang yang dipilih benar-benar sesuai dengan dirinya.

Ada mahasiswa yang menyukai teori tetapi ternyata kurang menikmati praktik.

Ada pula yang justru merasa lebih mudah memahami materi ketika langsung melakukan simulasi.

Pengalaman tersebut dapat menjadi bahan evaluasi selama kuliah.

Mahasiswa dapat mengetahui bidang yang paling diminati dan keterampilan apa yang perlu dikembangkan lebih lanjut.

Jangan Membandingkan Praktikum Antarjurusan Secara Sederhana

Pertanyaan seperti “jurusan mana yang paling banyak praktik?” sering muncul ketika calon mahasiswa memilih program studi.

Namun, banyaknya praktikum bukan indikator tunggal kualitas pendidikan.

Setiap bidang memiliki kompetensi berbeda.

Keperawatan membutuhkan keterampilan klinis.

Farmasi membutuhkan keterampilan laboratorium dan kefarmasian.

Kesehatan masyarakat memiliki kegiatan berbasis populasi dan lapangan.

Kebidanan mempunyai fokus pada kompetensi kebidanan dan kesehatan ibu serta anak.

Jadi, perbedaan jumlah praktik merupakan konsekuensi dari kompetensi yang harus dipelajari.

Apa yang Harus Dipersiapkan Calon Mahasiswa?

Bagi siswa SMA atau calon mahasiswa yang tertarik masuk bidang kesehatan, tidak perlu merasa takut hanya karena mendengar bahwa praktikum cukup banyak.

Justru, persiapkan diri sejak awal.

Beberapa kemampuan yang dapat mulai dibangun:

  • Kemampuan belajar mandiri.
  • Kedisiplinan.
  • Manajemen waktu.
  • Kemampuan membaca instruksi.
  • Ketelitian.
  • Komunikasi.
  • Kerja sama.
  • Keberanian bertanya.
  • Kemampuan menerima kritik.

Tidak perlu menguasai semuanya sebelum masuk kuliah.

Kemampuan tersebut dapat berkembang selama proses pendidikan.

Apa yang Harus Dibawa Saat Praktikum?

Perlengkapan praktikum bergantung pada program studi dan mata kuliah.

Jangan membeli banyak peralatan hanya berdasarkan informasi dari media sosial.

Tunggu instruksi resmi dari kampus atau dosen.

Biasanya mahasiswa akan mendapatkan informasi mengenai perlengkapan yang diperlukan sebelum kegiatan berlangsung.

Perlengkapan tersebut dapat mencakup alat tulis, modul, pakaian praktik, alat pelindung diri, atau perlengkapan tertentu sesuai kegiatan.

Pastikan mengikuti ketentuan kampus.

Jangan Menganggap Praktikum Sebagai Beban Semata

Ketika pertama kali mendapatkan jadwal praktikum yang padat, mahasiswa mungkin merasa terbebani.

Namun, jika dilihat dari sisi lain, kegiatan tersebut memberikan kesempatan untuk belajar melalui pengalaman langsung.

Mahasiswa dapat melakukan kesalahan, mendapatkan koreksi, mencoba kembali, dan memperbaiki kemampuan.

Proses seperti itu sulit digantikan hanya dengan membaca buku.

Karena itu, semakin mahasiswa memahami tujuan praktikum, semakin mudah pula melihat manfaatnya.

Hubungan Praktikum dengan Kompetensi Lulusan

Pendidikan tenaga kesehatan membutuhkan lulusan yang memiliki kemampuan sesuai bidangnya.

Kementerian Kesehatan menjelaskan bahwa standar kompetensi menjadi salah satu dasar penting dalam memastikan tenaga kesehatan memiliki kemampuan yang diperlukan untuk menjalankan tugasnya. (repositori-ditjen-nakes.kemkes.go.id)

Praktikum menjadi salah satu bagian dari proses pendidikan untuk membantu mahasiswa mencapai kompetensi tersebut.

Tentu saja, praktikum bukan satu-satunya faktor.

Mahasiswa tetap membutuhkan teori, pembelajaran berbasis kasus, pengalaman lapangan, evaluasi, dan pembentukan sikap profesional.

Kenapa Porsi Praktikum Terasa Lebih Banyak?

Jika dibandingkan dengan jurusan yang sebagian besar pembelajarannya berbasis teori, jadwal mahasiswa kesehatan memang dapat terlihat lebih padat.

Namun, hal tersebut sesuai dengan karakter pendidikan yang membutuhkan kombinasi:

teori → simulasi → praktik → evaluasi → perbaikan.

Mahasiswa tidak hanya perlu mengetahui apa yang harus dilakukan.

Mereka juga harus belajar bagaimana melakukannya dengan tepat, aman, dan sesuai kompetensi yang sedang dipelajari.

Itulah alasan utama praktikum mahasiswa kesehatan memiliki posisi penting dalam pendidikan.

happy Praktikum Mahasiswa Kesehatan, Kenapa Porsinya Lebih Banyak?
Happy
0 %
sad Praktikum Mahasiswa Kesehatan, Kenapa Porsinya Lebih Banyak?
Sad
0 %
excited Praktikum Mahasiswa Kesehatan, Kenapa Porsinya Lebih Banyak?
Excited
0 %
sleepy Praktikum Mahasiswa Kesehatan, Kenapa Porsinya Lebih Banyak?
Sleepy
0 %
angry Praktikum Mahasiswa Kesehatan, Kenapa Porsinya Lebih Banyak?
Angry
0 %
surprise Praktikum Mahasiswa Kesehatan, Kenapa Porsinya Lebih Banyak?
Surprise
0 %

You May Have Missed